Senin, 19 Desember 2011

GEREJA DAN DUNIA


MATERI        :
Ada zaman di mana Gereja berpandangan sangat negative tentang dunia. Akan tetapi saat ini Gereja sudah berpandangan yang lebih positif terhadap dunia. Gereja mengakui otonomi dunia dan ingin berdialog dengan dunia. Dialog ini dapat memperkaya dan memberdayakan Gereja dalam usahanya menyelamatkan umat manusia.
Mendalami cerita tentang Keterbukaan Gereja.
MEMBUKA JENDELA-JENDELA VATIKAN
Ketika Roncalli dipilih menjadi Paus, salah satu tindakan pertama yang bernada simbolik adalah menyuruh supaya jendela-jendela Vatikan dibuka selebar-lebarnya. Kemudian, ia menjelaskan arti symbol membuka jendela-jendela Vatikan selebar-lebarnya itu, katanya : “Supaya udara yang bau busuk dapat keluar dan udara segar dapat masuk. Selain itu, supaya pandangan tidak terhalang, ia dapat melihat jauh keluar tembok-tembok Vatikan, yakni dapat melihat ke seluruh penjuru dunia”.
Roncalli yang memilih nama Yohanes XXIII, kemudian mengumumkan diadakannya Konsili Vatikan II. Dengan Konsili itu, Gereja sungguh-sungguh membuka dirinya bagi dunia. Dunia dilihat jauh lebih positif dibandingkan dengan masa-masa yang lampau. Paus Yohanes XXIII dengan motto “aggiornamento” sungguh-sungguh telah membaharui Gereja dan hubungannya dengan dunia. Konsili Vatikan II menjadi tonggak sejarah baru Gereja.
                                                                       Dari : Kumpulan Cerita Kateketis
Jawablah pertanyaan-pertanyaan untuk Refleksi berikut :
1.        Apa komentarmu atas cerita di atas ?
2.        Apa pesan cerita di atas bagi Gereja kita ?
3.        Konsili Vatikan II membawa banyak pembaharuan. Bagaimana pandangan Konsili tentang dunia ?
4.        Bagaimana hubugan Gereja dengan dunia ?

A.        HUBUNGAN GEREJA DAN DUNIA
Konsili Vatikan II sungguh telah memperbaharui Gereja dan hubungannya dengan dunia. Hubungan yang menjadi lebih baik ini disebabkan karena Gereja  mulai memiliki pandangan baru tentang dunia dan manusia. Ada baiknya kita melihat pandangan-pandangan baru tentang dunia dan manusia, kemudian kita melihat hubungan  antara Gereja  dan dunia serta alasan-alasan mengapa harus terjalin hubungan yang saling mengisi antara keduanya.
1.     Pandangan Baru Tentang Dunia dan Manusia.
a.  Dunia.
Pada masa lampau dunia seringkali dipandang negative sebagai dunia berdosa, sehingga terdapat gagasan bahwa dunia tidak berharga, berbahaya, jahat, dan tidak termasuk lingkup keselamatan manusia, bahkan merupakan halangan dan rintangan bagi manusia untuk mencapai keselamatannya. Pandangan demikian mungkin didasari oleh penafsiran secara dangkal terhadap teks Kitab Suci, misalnya :
1)  “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata, serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia” (1 Yoh 2: 15 – 16).
2)  “Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat” (1 Yoh 5 : 19).
3)  “Janganlah menjadi serupa dengan dunia” (Rm 12 : 2).
Dalam Injil ataupun dalam surat-surat, juga ditekankan bahwa dunia berdosa, dunia yang bermusuhan dengan Allah telah dikalahkan oleh Yesus (bdk. Yoh 16 : 33). Berkat salib Kristus, seorang Kristen hidup dalam dunia yang baru. Dunia yang terletak di dalam genggaman si jahat telah dikalahkan oleh Kristus seperti dikatakan Paulus : “Karena salib Kristus, bagiku dunia disalibkan dan akupun disalibkan bagi dunia” (Gal 6: 14).
Konsili Vatikan II mengajak kita untuk melihat dunia secara lebih positif.
Dunia dilihat sebagai seluruh keluarga manusia dengan segala hal yang ada di sekelilingnya. Dunia menjadi pentas berlangsungnya sejarah umat manusia. Dunia diciptakan dan dipelihara oleh cinta kasih Tuhan Pencipta. Dunia yang pernah jatuh menjadi budak dosa, kini telah dimerdekakan oleh Kristus yang telah disalibkan dan bangkit pula, untuk menghancurkan kekuasaan setan agar dunia dapat disusun kembali sesuai dengan rencana Allah dan mencapai kesempurnaan (G.S. 2)

b.  Manusia.
Menyangkut manusia kita bicarakan tentang martabat manusia, masyarakat manusia dan karya manusia.
1)  Martabat Manusia.
Sejak dahulu Gereja sudah selalu mengajarkan bahwa manusia mempunyai martabat yang luhur, karena manusia diciptakan menurut citra Allah dan dipanggil untuk memanusiawikan dan mengembangkan diri menyerupai Kristus, di mana citra Allah tampak secara utuh.
Manusia adalah ciptaan yang memiliki akal budi, kehendak bebas dan hati nurani. Ketiga-tiganya ini menunjukkan bahwa manusia adalah sebagai citra Allah, walaupun dpt disalahgunakan sehingga jatuh ke dalam dosa.
Manusia sungguh ciptaan yang istimewa, karena ia diciptakan demi dirinya sendiri, padahal makhluk lain diciptakan hanya untuk manusia.
2)  Masyarakat Manusia.
Pribadi manusia dan masyarakat memang saling bergantungan satu sama lain. Hal ini sesuai dengan rencana Tuhan karena manusia diciptakan sebagai makhluk yang bermasyarakat. Allah, yang memelihara segala sesuatu sebagai Bapa, menghendaki agar semua manusia membentuk satu keluarga dan memperlakukan seorang akan yang lain dengan jiwa persaudaraan (G.S. 24).
Kristus sendiri berdoa agar “Semua menjadi satu………….. seperti kita pun satu adanya” (Yak 17: 21-22).
3)  Usaha dan Karya Manusia.
Perkembangan dunia di segala bidang memang dikehendaki Tuhan dan manusia dipilih untuk menjadi “rekan kerja” Tuhan dalam melaksanakan perkembangan dunia.
Kebenaran ini perlu disadari pada masa kemajuan Ilmiah dan tehknik ini, supaya manusia tidak salah langkah. Usaha dan karya manusia apapun bentuknya mempunyai nilai yang luhur, karena dengan itu manusia menjadi partner Tuhan dalam menyempurnakan dan menyelamatkan dunia ini. Selanjutnya, dengan berkarya manusia bukan saja menyempurnakan bumi ini tetapi juga menyempurnakan dirinya sendiri.

2.     Hubungan Antara Gereja dan Dunia.
Menyangkut hubungan antara Gereja dan dunia dapat diangkat satu dua hal berikut ini :
a.  Gereja Postkonsilier melihat dirinya sebagai “Sakramen Keselamatan” bagi dunia. Gereja menjadi terang, garam dan ragi bagi dunia. Dunia menjadi tempat atau ladang, di mana Gereja berbhakti. Dunia tidak dihina dan dijauhi, tetapi didatangi dan ditawari keselamatan.
b.  Dunia dijadikan mitra Dialog. Gereja dapat menawarkan nilai-nilai Injili dan dapat mengembangkan kebudayaannya, adat istiadat, alam pikiran, ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga Gereja dapat lebih efektif menjalankan misinya di dunia.
c.  Gereja tetap menghadapi otonomi dunia dengan sifatnya yang sekuler, karena di dalamnya terkandung nilai-nilai yang dapat  mensejahterakan manusia dan membangun sendi-sendi kerajaan Allah.

Sebenarnya, Gereja dan dunia manusia merupakan realitas yang sama, seperti mata uang yang ada dua sisinya. Berbicara tentang Gereja berarti berbicara tentang dunia manusia. Bagi seorang Kristen berbicara tentang dunia manusia berarti berbicara tentang Gereja sebagai umat Allah yang sedang berziarah di dunia ini.

Mendalami Misi Gereja Terhadap Dunia.
Jawablah pertanyaan-pertanyaan untuk Refleksi berikut :
Sesudah melihat hubungan Gereja dan dunia, apa kiranya tugas Gereja terhadap :
1.        Martabat manusia ?
2.        Masyarakat?
3.        Usaha dan karya manusia ?
4.        Hal-hal mendesak lainnya yang perlu menjadi perhatian Gereja ?
B.        MISI DAN TUGAS GEREJA DALAM DUNIA
Tugas Gereja adalah melanjutkan karya Yesus, yakni mewartakan Kerajaan Allah kepada seluruh umat manusia. Kerajaan Allah baru terwujud secara sempurna pada akhir zaman, tetapi kerajaan Allah harus diwujudkan mulai dari dunia ini.
Dalam Injil tersirat kesadaran bahwa misi atau tugas Gereja pertama-tama bukan “Penyebaran Agama”, melainkan kabar gembira (Kerajaan ALlah) yang relevan dan mengena pada situasi konkrit manusia dalam dunia yang majemuk ini.
Menjadi pelayan Kerajaan Allah berarti berusaha dengan segala macam cara ke arah terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah masyarakat, misalnya persaudaraan, kerja sama, dialog, solidaritas, keterbukaan, keadilan, hormat kepada hidup, memperhatikan yang lemah, miskin, tertindas, tersingkirkan dsb.
Bagi Gereja, mewartakan Injil berarti membawa kabar gembira ke segenap lapisan umat manusia, sehingga berkat dayanya kabar tersebut masuk ke dalam lubuk hati manusia dan membaharui umat manusia dari dalam. “Lihatlah Aku memperbaharui seluruh ciptaan” (EN 18).
Berikut disebutkan beberapa hal pokok seperti yang disarankan oleh Gaudium et Spes, yang harus menjadi perhatian Gereja masa kini, yakni :
1.     Martabat Manusia.
Manusia dewasa ini berada di jalan menuju pengembangan kepribadiannya yang lebih penuh dan menuju penemuan serta penebusan hak-haknya yang makin hari makin bertambah. Untuk itu Gereja dapat berperanan, antara lain :
a.  Membebaskan martabat kodrat manusia dari segala perubahan paham, misalnya terlalu menekankan dan mendewakan tubuh manusia atau sebaliknya.
b.  Menolak dengan tegas segala macam perbudakan dan pemerkosaan martabat dan pribadi manusia.
c.  Menempatkan dan memperjuangkan martabat manusia sesuai dengan maksud penciptanya.
2.     Peran Gereja dalam Masyarakat.
Dalam kehidupan bermasyarakat, Gereja dapat berperan antara lain sebagai berikut :
a.  Membangkitkan karya-karya yang melayani semua orang, terutama yang miskin, seperti karya-karya amal, dsb.
b.  Mendorong semua usaha ke arah persatuan, sosialisasi dan persekutuan yang sehat di bidang kewargaan dan ekonomi.
c.  Karena universalitasnya, Gereja dapat menjadi pengantara yang baik antara masyarakat dan Negara-negara yang berbeda-beda hidup budaya dan politik.
3.     Usaha dan Karya Manusia.
a.  Gereja akan tetap meyakinkan putra-putrinya dan dunia bahwa semua usaha manusia, betapapun kecilnya bila sesuai dengan kehendak Tuhan mempunyai nilai yang sangat tinggi, karena merupakan sumbangan pada pelaksanaan rencana Tuhan.
b.  Gereja akan tetap bersikap positif dan mendorong setiap kemajuan ilmiah dan teknik di dunia ini asal tidak menghalangi melainkan secara positif mengusahakan tercapainya tujuan akhir manusia.
c.  Akhirnya Konsili Vatikan II mencatat masalah-masalah yang dilihatnya sebagai masalah yang mendesak, yakni martabat pernikahan dan kehidupan keluarga, pengembangan kemajuan kebudayaan, kehidupan social ekonomi dan politik serta perdamaian dan persatuan bangsa-bangsa.

Mendalami Masalah-Masalah Pokok Bangsa Indonesia Yang Membutuhkan Perhatian Dan Penanganan Dari Gereja Indonesia.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan untuk Refleksi berikut :
1.        Bangsa kita lemah lama hidup dalam krisis multi dimensi. Apa saja yang kamu ketahui tentang :
a.        Keadaan lingkungan hidup di negeri kita?
b.        Situasi politik dan hukum di negeri kita?
c.        Situasi ekonomi masyarakat kita?
d.        Situasi budayaa dan pendidikan kita ?
2.         Menurut pendapatmu apa kiranya akar dari semua krisis Negara kita ini ?
3.        Apa yang dapat dibuat oleh Gereja Indonesia untuk menangani masalah-masalah itu ?


C.        MASALAH BANGSA DAN SUMBANGAN GEREJA INDONESIA DALAM PENANGANAN KRISIS MULTI DIMENSI.
1.     Situasi Negara Kita.
Negara kita sudah sejak lama mengalami krisis multy dimensi, antara lain :
a.  Krisis Lingkungan Hidup.
Alam negeri kita sering dirusak dan dieksploitasi secara tidak bertanggung jawab oleh tangan-tangan yang kotor dan bernafsu serakah. Kebakaran hutan yang menimbulkan bencana asap, penebangan hutan besar-besaran dan pencemaran lingkungan oleh pabrik-pabrik merupakan contoh-contoh yang menunjukkan bahwa alam kita sedang dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kemajuan kita sering terarah pada “menguasai alam”.
b.  Krisis Ekonomi.
Telah banyak kemajuan yang telah dicapai dalam pembangunan di Indonesia. Namun, pembangunan yang kita gencarkan menimbulkan pula kesenjangan social yang sangat besar. Segelintir orang semakin kaya, semakin berkuasa dan semakin sewenang-wenang, sedangkan sebagian besar rakyat kita tetap miskin, bahkan semakin miskin. Timbul berbagai bentuk monopoli, kolosi, korupsi dan sebagainya. Kehidupan ekonomi kita masih kurang kokoh. Sekarang kita masih menghadapi krisis moneter, harga berbagai kebutuhan hidup dan jasa meningkat. Yang paling menderita selalu rakyat kecil.
c.  Krisis Politik.
Harus kita akui bahwa ada kemajuan di bidang politik, yakni masyarakat kita telah banyak belajar berdemokrasi dan  bersikap otonom. Ada suasana kebebasan. Namun, lembaga-lembaga yang menjamin kedaulatan rakyat tidak senantiasa berfungsi dengan baik. Hukum dan lembaga-lembaga hukum kadangkala tidak  tidak jalan. Kekuasaan legislative, eksekutif, yudikatif dan partai-partai digunakan untuk menjamin kepentingan diri sendiri atau golongannya/ kelompoknya sendiri. Korupsi dan kesewenang-wenangan terasa semakin subur.
d.  Krisis Budaya dan Pendidikan.
Cukup lama pembangunan negeri kita memalaikan pendekatan budaya. Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan ekonomi dan politik. Mutu pendidikan kita terus merosot.
2.     Akar dari Semua Masalah.
Menurut banyak pakar dikatakan bahwa sumber dari semua krisis itu adalah krisis moral. Bangsa kita seperti kehilangan hati nurani. Hal buruk secara moral yang paling terasa adalah :
a.  Ketidakadilan : yang kaya dan berkuasa semakin Berjaya, sedangkan yang miskin (rakyat kecil) semakin terpuruk. Kesewenang-wenangan masih cukup banyak terjadi.
b.  Ketidakjujuran : melahirkan korupsi dan nepotisme. Kemunafikan dan formalism masih cukup terasa.
c.  Tidak adanya kesetiakawanan : keserakahan demi kepentingan diri sendiri dan golongan semakin merebak.
3.     Peranan dan sumbangan Gereja.
Dalam melaksanakan tugas kenabiannya, Gereja harus selalu berjuang dengan berbagai cara supaya keadilan, kejujuran dan kesetiakawanan ditegakkan. Gereja hendaklnya berjalan paling depan dalam gerakan menegakkan keadilan, kejujuran dan kesetiakawanan. Jika kita sungguh-sungguh menghayati keadilan, kejujuran dan kesetiakawanan, maka krisis ekonomi, politik, budaya dsb akan dapat teratasi.

EVALUASI
1.        APAKAH Gereja Indoesia cukup punya andil dalam pembangunan  negeri ini ? Jelaskan.
2.        Bagaimana supaya Gereja Indonesia lebih memiliki daya pikat di negeri ini ?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar